Rabu, 28-01-2026
Selamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal Soedirman
Selamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal SoedirmanSelamat datang di laman resmi Prodi Fisika | Universitas Jenderal Soedirman
28Jan2026

Perhitungan Astronomis Awal Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H / 2026 M

Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang dilaksanakan selama bulan Ramadhan, bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah. Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan setiap tahunnya dilakukan oleh pemerintah melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sidang ini melibatkan para ahli hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) untuk menentukan kapan dimulainya puasa.

Terkait penentuan awal Ramadhan tahun 2026 atau 1 Ramadhan 1447 Hijriyah, Guru Besar Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jenderal Soedirman, Prof. Ir. Jamrud Aminuddin, S.Si., M.Si., Ph.D., menyampaikan analisis berdasarkan perhitungan astronomi. Perhitungan ini dilakukan menggunakan perangkat lunak pengolah data astronomi yang dikembangkan oleh Islamic Astronomical Center (IAC). Titik pengamatan yang digunakan berada di Gedung C FMIPA Universitas Jenderal Soedirman dengan koordinat astronomis bujur 109°15’15,0” BT dan lintang 7°24’37,0” LS, serta zona waktu WIB (UTC +7).

Berdasarkan hasil perhitungan, pada Selasa, 17 Februari 2026, akan terjadi konjungsi atau ijtimak pada pukul 19.01 WIB. Konjungsi merupakan peristiwa saat Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus. Pada hari tersebut, Matahari terbenam lebih dahulu, yakni pada pukul 18.16 WIB. Karena konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam, para ahli falak sepakat bahwa malam tersebut belum dapat dinyatakan sebagai awal bulan baru.

Selanjutnya, pada Rabu, 18 Februari 2026, Matahari diperkirakan terbenam pada pukul 18.15 WIB. Pada saat itu, posisi hilal (bulan sabit muda) sudah berada pada ketinggian sekitar 9 derajat 31 menit di atas ufuk dengan sudut elongasi sekitar 11 derajat 54 menit. Nilai ini telah melampaui kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu ketinggian hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi lebih dari 6,4 derajat.

Dengan kondisi tersebut, awal Ramadhan 1447 Hijriyah sangat memungkinkan untuk disepakati jatuh pada Rabu malam, 18 Februari 2026. Artinya, umat Islam diperkirakan akan mulai melaksanakan salat tarawih pada malam tersebut, dan ibadah puasa dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Berdasarkan perhitungan ini pula, hilal diprediksi dapat terlihat dengan mudah, bahkan tanpa bantuan alat optik seperti teleskop. Visualisasi hasil analisis ini ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Visualisasi kenampakan hilal pada Hari Rabu, 18 Februari 2026.

Pada hari pengamatan tersebut, Jurusan Fisika Universitas Jenderal Soedirman akan ikut serta dalam pemantauan hilal yang dilakukan dari area rooftop kampus. Kegiatan ini menggunakan teleskop Sky-Watcher BK909 NEQ2 yang telah dilengkapi dengan sistem penggerak (mounting) otomatis.

Teleskop ini mampu membidik posisi hilal secara otomatis setelah koordinatnya dimasukkan ke dalam perangkat lunak SkyPlanetarium, sehingga proses pengamatan menjadi lebih mudah dan akurat. Dengan teknologi ini, pengamat tidak memerlukan keahlian khusus, termasuk keterampilan fotografi, untuk mendapatkan gambar hilal.

Perangkat teleskop tersebut merupakan hasil pengembangan peneliti Jurusan Fisika FMIPA Universitas Jenderal Soedirman dengan ketua tim Prof. Ir. Jamrud Aminuddin, S.Si., M.Si., Ph.D beserta Anggota Timnya Prof. Drs. Budi Pratikno, M.Stat., Sci., Ph.D., dan Dr. Mirda Prisma Wijayanto, M.Si.. Inovasi ini diharapkan dapat mendukung kegiatan pemantauan hilal secara lebih efektif serta berkontribusi dalam penentuan awal bulan Ramadhan. Bentuk teleskop yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Teleskop jenis dengan mounting otomatis yang terhubung dengan software Skyplanetarium.

Lalu bagaimana dengan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah? Apakah ada kemungkinan penetapannya berlangsung seragam? Berdasarkan analisis astronomi, jawabannya adalah kemungkinan besar tidak seragam.

Menurut hasil perhitungan, pada Kamis, 19 Maret 2026, konjungsi atau ijtimak diperkirakan terjadi pada pukul 08.23 WIB. Namun, pada saat Matahari terbenam di Indonesia yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 18.04 WIB, posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Pada waktu tersebut, ketinggian hilal diperkirakan hanya sekitar 2 derajat 31 menit di atas ufuk dengan sudut elongasi sekitar 5 derajat 43 menit. Nilai ini masih berada di bawah batas minimal kriteria MABIMS, meskipun umur Bulan saat itu sudah mencapai sekitar 9 jam 41 menit. Dengan kondisi ini, terdapat kemungkinan bahwa para pengamat rukyat di Indonesia tidak akan menetapkan hari tersebut sebagai awal 1 Syawal 1447 Hijriyah.

Visualisasi posisi hilal pada tanggal tersebut ditampilkan pada Gambar 3, yang menunjukkan bahwa peluang hilal untuk dapat terlihat di wilayah Indonesia sangat kecil. Menariknya, beberapa jam kemudian, hilal justru berpeluang terlihat di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, sekitar empat jam setelah waktu terbenam Matahari di Indonesia. Perbedaan kondisi astronomis inilah yang berpotensi menyebabkan perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.

Gambar 3. Visualisasi kenampakan hilal pada Hari Kamis, 19 Maret 2026.

Sebagai kesimpulan, berdasarkan analisis astronomi dapat dikatakan bahwa penentuan awal Ramadhan relatif lebih mudah dilakukan, sementara penetapan awal bulan Syawal 1447 Hijriyah diperkirakan akan lebih menantang. Hal ini disebabkan oleh perbedaan nilai ketinggian hilal dan sudut elongasi yang sangat tipis jika dibandingkan dengan kriteria MABIMS. Dalam perhitungan ini, selisih ketinggian hilal hanya sekitar 0,48 derajat, sementara selisih sudut elongasi sekitar 0,28 derajat.

Perlu ditegaskan bahwa analisis ini bersifat ilmiah dan bukan merupakan keputusan resmi. Penetapan awal Ramadhan maupun Idul Fitri tetap menjadi kewenangan pihak yang berwenang, dalam hal ini Pemerintah Republik Indonesia melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari otoritas terkait. Informasi ini disampaikan sebagai bagian dari edukasi dan literasi sains kepada publik.

Jurusan Fisika FMIPA UNSOED, 27 Januari 2026

Prof. Ir. Jamrud Aminuddin, S.Si., M.Si., Ph.D

Guru Besar Jurusan Fisika FMIPA UNSOED

Dibaca 196x
Lainnya

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Jurusan Fisika

Jl. Dr. Seoparno No. 61 Purwokerto Utara – Jawa Tengah, Indonesia (53122)

Tautan Cepat

Akreditasi Jurusan